Bahasa Indonesia di Persimpangan

WiMiU – Sebagaimana diketahui bahwa bulan Oktober diperingati sebagai bulan bahasa. Bulan dimana bahasa Indonesia menjadi sebuah bahasa untuk mempersatukan semua suku bangsa di Indonesia tanpa memperdulikan bahasa Ibu mereka. Semua suku di Indonesia bisa saling berbicara, saling sapa dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga mempunyai peran besar dalam membangun negara ini mulai dari era penjajahan hingga kemerdekaan. 84 tahun silam tepatnya 28 Oktober 1928 lahirlah sebuah sumpah yang membuktikan keberadaan Indonesia secara nyata, jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Sumpah yang dikenal dengan nama Sumpah Pemuda ini bisa menjadi bukti nyata adanya bangsa Indonesia dan lahirnya bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda itu berbunyi : Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia ; Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia ; Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Dari ketiga sumpah itu, saya hanya mencoba untuk mendalami sumpah yang ketiga yaitu Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Sumpah ini jelas menyatakan bahwa bahasa persatuan untuk putra dan putri Indonesia adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang harus dipelajari semua anak bangsa negeri ini mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Namun seiring waktu Bahasa Indonesia yang dulunya menjadi perekat bangsa ini mulai tergerus oleh arus globalisasi. Putra dan putri negeri ini seakan tak peduli dengan bahasa Indonesia bahkan kadang tidak tahu mana bahasa Indonesia yang benar dan mana bahasa Indonesia yang sudah disusupi bahasa gaul.

Selain ‘bermusuhan’ dengan bahasa gaul yang sering menyusupi bahasa Indonesia, bahasa daerah juga punya peran kenapa bahasa Indonesia tidak terlalu banyak diucapkan. Misalnya, saya pergi ke suatu pulau di luar kalimantan dan jalan-jalan di pasar untuk membeli sesuatu karena saya tidak bisa berbahasa daerah wilayah tersebut maka saya berbelanja menggunakan bahasa Indonesia namun tidak disangka harganya jadi jauh lebih mahal daripada seorang teman yang bisa berbahasa daerah yang sama dengan si penjual. Ternyata adanya keterikatan suku dan bahasa juga berperan besar dalam transaksi jual beli di suatu tempat yang tidak kita kenal. Itulah mengapa pada akhirnya para pelancong yang berwisata ke suatu daerah tidak terlalu berusaha untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia tapi lebih berusaha untuk belajar bagaimana supaya bisa mempelajara bahasa daerah setempat.

Namun berdasarkan apa yang saya lihat bahwa menurunnya hegemoni bahasa Indonesia di kalangan anak muda sekarang karena besarnya pengaruh bahasa televisi, banyak orang menganggap bahwa bahasa yang dikeluarkan di media televisi adalah bahasa Indonesia. Apalagi berdasarkan penelitian bahwa orang indonesia banyak menghabiskan waktunya di depan televisi yang pada akhirnya akan membuat bahasa Indonesia yang mereka miliki tercampur aduk dengan bahasa gaul televisi.

Kita sering mendengar adanya penghargaan penggunaan bahasa Indonesia untuk perseorangan maupun media cetak namun tak pernah saya mendengar adanya penghargaan bagi media elektronik maupun media online atas penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kenapa media elektronik dan media online tak pernah ada penghargaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar padahal dua media itu sangat berperan besar dalam tutur kata di masyarakat kita. Tidak semua orang membaca koran tapi hampir semua orang menonton televisi.

Selain media yang juga berperan dalam hidup dan matinya bahasa Indonesia di negeri ini, para pemimpin dan pejabat negeri ini juga harusnya menjadi tauladan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar namun pada kenyataanya banyak kepala daerah yang ketika di wawancara sering kali tak sepenuhnya bisa berbahasa Indonesia, kadangkala bahasanya dicampur dengan bahasa asing dan sesekali terselip bahasa ibu. Sungguh ironis memang, pejabat negeri ini tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kalau bukan mereka yang menjadi teladan dalam penggunaan bahasa Indonesia, kepada siapa lagi kita berharap!

Dan pengharapan terakhir untuk bertahannya bahasa Indonesia di negeri ini adalah tatanan sosial masyarakat itu sendiri, selama mereka menganggap bahasa Indonesia sebagai bahasa yang perlu mereka gunakan dalam berkomunikasi dengan orang lain maka bahasa Indonesia itu tak akan punah oleh penuturnya sendiri namun dalam beberapa kenyataan ternyata masyarakat kita sudah mulai tak terlalu peduli dengan bahasa Indonesia itu sendiri. Bukti yang sering diperlihatkan adalah penghargaan di masyarakat itu sendiri bagaimana orang yang bisa berbahasa asing lebih dihargai ketimbang mereka yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Belum lagi dunia kerja yang jelas-jelas punya kantor di Indonesia ternyata masih mensyaratkan harus punya kemampuan bahasa asing yang baik minimal pasif.

Saya sering berpikir seandainya bahasa Indonesia juga punya tes kemampuan layaknya tes bahasa Inggris seperti TOEFL dan setiap orang yang ingin mendaftar bekerja wajib memiliki sertifikat tersebut untuk menandakan mereka bisa berbahasa Indonesia yang baik dan benar minimal dalam penulisan maka tentunya akan banyak orangtua yang mengikutkan anak-anak mereka ke dalam kursus bahasa Indonesia tersebut.

Terlepas dari semua itu, kalau semua usaha sudah kita lakukan untuk tetap mempertahankan bahasa Indonesia namun pada akhirnya gagal membendung bahasa asing dan bahasa gaul yang terus menggempur tatanan baku bahasa Indonesia tersebut, mungkin sudah saatnya bahasa Indonesia berada di persimpangan jalan antara sebuah bahasa yang harus dijaga keberadaannya oleh putra dan putri Indonesia seperti yang tertuang dalam sumpah pemuda 84 tahun silam atau lupakan saja bahasa Indonesia itu sendiri.

Tinggalkan Balasan