Tawuran Pelajar, Salah Siapa?

WiMiU – Beberapa waktu lalu media elektronik dan cetak sibuk dengan pemberitaan tentang tawuran pelajar dan dari beberapa pemberitaan kadangkala ada kesan menyalahkan sistem pendidikan bahkan guru di sekolah. Menyalahkan secara tunggal sistem pendidikan dan guru dalam hal tawuran pelajar bagi saya hanyalah sebuah alibi dari kegagalan sebuah sistem tatanan bermasyarakat bangsa ini yang sudah melupakan rasa kekeluargaan, kegotongroyongan dan juga musyawarah mufakat. Tawuran pelajar yang selama ini sering terjadi menurut pendapat saya adalah akibat dari melemahnya rasa hormat para siswa kepada guru mereka sendiri. Melemahnya rasa hormat siswa dikarenakan adanya gaung kebebasan hak asasi manusia yang kadang-kadang menjadi tameng perlindungan serta senjata untuk membungkam para guru untuk bertindak tegas terhadap para siswa yang nakal dan suka bertindak berlebihan.

Masih ingat dalam benak saya bagaimana kerasnya disiplin yang diterapkan di sekolah dulu, hukuman atas kesalahan yang kita lakukan juga dijalankan sepenuh hati dengan penuh rasa bertanggungjawab karena kita memang merasa bersalah telah melanggar aturan yang ada di sekolah. Namun kini itu telah berbeda, sedikit saja terkadang guru melakukan tindakan keras kepada muridnya yang jelas-jelas salah tiba-tiba saja orangtua murid melaporkan sang guru ke kantor polisi dengan tuduhan melakukan tindakan kekerasan. Bahkan kadang ada saja ketika si murid jelas-jelas salah dan diberi sanksi dikeluarkan dari sekolah, mendadak orangtua si murid datang dan menghadang para guru yang mengeluarkan anaknya dari sekolah. Belum lagi masalah birokrasi yang masuk menjalar ke dalam dunia sekolah, dimana anak para pejabat yang sering berulah sulit untuk ditegur karena merasa orangtuanya punya kuasa dan akhirnya si guru takut untuk menindak karena kuatir akan kena mutasi seandainya memberi sanksi si anak pejabat terbut. Hal-hal semacam itu pada akhirnya membuat para guru malas untuk melakukan tindakan keras kepada si murid.

Memang tak juga bisa kita pungkiri sistem pendidikan sekarang juga berperan pada hilangnya jiwa mendidik para guru namun tak berarti juga menyalahkan sepenuhnya. Sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada hasil akhir atau nilai akhir tak lagi memperdulikan bagaimana prosesnya. Hal itu bisa dilihat bagaimana sekolah terpacu dengan nilai dan hasil terbaik dalam ujian nasional hingga kadang-kadang membuang idealisme guru itu sendiri.

Belum lagi masalah sertifikasi yang sedikit banyaknya juga menghilangkan rasa mendidik di kalangan guru yang pada akhirnya mereka hanya datang dan mengajar kemudian pergi lagi ke sekolah lain untuk mengajar demi tuntutan 24 jam tatap muka. Sudah saatnya sertifikasi yang hanya mengejar jumlah jam mengajar itu dihapuskan dan diganti dengan lamanya mengabdi seorang guru dalam mengajar, misalnya dimulai dari 5 tahun, berapa uang tunjangan sertifikasi di dapatkan dari lamanya mengajar 5 tahun.

Belum lagi orangtua dan lingkungan masyarakat juga ikut memicu seringnya tawuran pelajar yang terjadi. Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orangtua serta rendahnya penghargaan kepada anak kita tentang perilaku baik yang mereka lakukan juga membuat dia semakin malas berbuat baik. Orangtua sekarang walaupun tidak semua seperti ini, sering bangga apabila anaknya pintar membaca buku, bisa mengeja huruf latin namun tak peduli anaknya bisa atau tidak dalam mengaji. Ketika anaknya juara di kelas, orangtua bangganya luar biasa tapi ketika si anak khatam Al Quran orangtua bersikap biasa-biasa saja.

Kembali ke masalah tawuran yang kadang menyalahkan guru di sekolah. Kalau siswa sekolah tawuran maka yang disalahkan adalah sistem pendidikan dan gurunya lalu bagaimana dengan mereka yang mengaku lebih dari seorang siswa yaitu para mahasiswa yang juga sering kita lihat tawuran antar kampus, antar fakultas atau seringkali juga saat demo suka menghancurkan fasilitas umum. Kenapa hal-hal semacam itu tak pernah ada cerita bahwa sistem pendidikan kampusnya salah, dosennya salah? Dimana pendidikan karakter mereka saat kuliah?

Membedakan permasalah tawuran yang dilakukan pelajar dan mahasiswa yang jelas-jelas masih dalam lingkup pendidikan bagi saya hanyalah pelarian dari permasalahan tidak adanya teladan yang baik dalam menyelesaikan sebuah sengketa.

Berita-berita di televisi memberikan kesan yang sangat buruk bagi generasi mendatang karena mayoritas yang namanya berita itu adalah kejahatan. Sering juga terlihat bagaimana warga kampung bersengketa hanya karena masalah patok wilayah kampung yang ujung-ujungnya saling serang, saling bakar. Belum lagi para calon pemimpin wilayah terutama pilkada yang harusnya mereka bisa menjadi teladan bagi rakyat yang akan dipimpinnya tapi pada kenyataannya malah bertindak kurang terpuji, seperti pengerahan massa para pendukung dan kadang-kadang bersifat anarkis hingga menhancurkan fasilitas umum hanya karena kalah dalam pemilihan kepada daerah walaupun perlu dipertanyakan apa itu murni pendukung atau hanya orang-orang bayaran.

Belum lagi sinetron remaja yang dipertontonkan sungguh sangat tidak layak untuk tayang di televisi yang kadang kala menggambarkan situasi sekolah dengan penuh kebohongan, bagaimana pakaian sekolah mereka sangat pendek, rambut yang berwarna-warni serta tingkah-laku murid yang sering kali meremehkan guru di sekolahnya serta watak guru di sekolah yang terkesan penakut, suka disogok dan yang sering terjadi adalah adanya perkelahian antar kelompok baik itu pria atau wanita dalam memperebutkan pasangannya.

Lalu siapa yang pantas untuk disalahkan dengan adanya tawuran pelajar ini? Semua dari kita bersalah sesuai dengan porsinya masing-masing. Mulai dari orangtua, guru, media elektronik, pemerintah hingga lingkungan masyarakat. Kegagalan kita dalam memberikan teladan pada anak serta memudarnya rasa kekeluargaan dan kebersamaan membuat tawuran sulit untuk dihentikan. Satu-satunya solusi adalah adanya tindakan tegas terhadap para pelaku tawuran tersebut, tindakan tegas bukan dalam artian menghukum tapi mendidik.

6 Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan