Baju Muslimah, Penutup Bukan Pembungkus

Ceramah kegiatan keputrian di kampus yang saya hadiri Jumat lalu membahas tentang baju muslim di kalangan wanita modern. Topik ini sangat menarik karena saya adalah hijabers yang baru mulai memakai jilbab sejak sebulan yang lalu. Saat ini usia saya tujuh belas tahun dan masih duduk di tahun pertama bangku kuliah. Di rumah, ibu dan kedua kakak perempuan saya belum mengenakan hijab jadi saya adalah yang pertama, dan memutuskannya berdasarkan keinginan sendiri. Karena kurangnya informasi mengenai jilbab dan cara berpakaian yang baik dari lingkungan rumah dan sahabat-sahabat, saya sengaja mengikuti kegiatan seperti keputrian ini supaya ilmu saya tentang Islam terus bertambah dan bisa dimanfaatkan. Kegiatan ini juga dapat membantu saya menambah jaringan pertemanan karena yang menghadirinya terkadang berasal dari jurusan bahkan kampus lain.

 

Baju muslim yang menjadi topik bahasan Jumat lalu diawali dengan diskusi bagaimana menjalani kegiatan sehari-hari dengan mengenakan pakaian yang santai namun tetap santun. Bagi saya, pakaian muslimah yang penting tertutup dari kepala sampai kaki bagaimanapun bentuknya. Namun ternyata bagi senior-senior yang telah lama mengenakan hijab, baju untuk muslimah sebaiknya bukan hanya membungkus namun juga menutupi. Mereka mengambil perumpamaan lontong. Daun pisang yang menutupi lontong namanya pembungkus karena bentuk lontong tetap jelas terlihat meskipun telah ditutupi seluruh permukaannya. Sedangkan penutup yang dipakai perempuan muslim seharusnya seperti kain gorden, pemandangan indah di luar tidak akan terlihat jika belum waktunya. Kain gorden juga biasanya memiliki warna yang serasi dan tidak membosankan, sama seperti pakaian muslimah, meskipun menutupi seluruh tubuh namun tetap menyenangkan untuk dilihat orang.

Tinggalkan Balasan