Pencetus Bisnis Sosial

Pendirian banyaknya gedung business center internasional di kota-kota besar seperti memperlihatkan betapa majunya keadaan ekonomi di kota tersebut. Kekuatan ekonomi kini identik dengan ikapitalisme global yang mengarahkan orang menjadi lebih egois dan semata-mata melakukan keputusan demi mendapatkan keuntungan yang maksimal. Namun Muhammad Yunus, penerima Nobel Perdamaian untuk gerakannya membangun Bank Grameen memiliki cerita lain di tengah hiruk pikuknya kekuatan kapitalisme.

 

Sekitar tahun 1970 ia mengajar di sebuah universitas di Bangladesh, di sana banyak warga yang hidup di garis kemiskinan. Ia ingin melakukan satu perubahan untuk satu orang saja di desa seberang Universitas ia mengajar. Setelah ia mengobrol dengan beberapa wanita lokal di sana mengapa mereka terus hidup miskin adalah karena  mereka dipaksa harus membayar jumlah bunga hutang yang tinggi akibat pinjaman kecil yang mereka ajukan untuk memulai usaha karya tangan mereka. Yunus memberikan 27 Dollar kepada 42 wanita di sana dari tabungannya sendiri untuk dipinjamkan  agar membebaskan mereka dari hutang sebelumnya dengan bunga yang amat tinggi.

 

Setelah terbebas dari hutang yang kejam, mereka lebih efektif dalam bekerja dan mampu mengembalikan uang pinjaman Yunus. Atas dari pengalaman itulah Yunus tidak tertarik dengan aktivitas yang dilakukan di berbagai business center internasional di kota-kota besar. Ia melanjutkan bisnis sosialnya ini menjadi suatu badan Bank Grameen yang khusus membantu mereka yang berada di bawah garis kemiskinan.

Tinggalkan Balasan