Menggugat PLN

WiMiU – Sebelum saya menulis panjang lebar, perkenankan saya berkata bahwa saya menulis postingan ini setelah pemadaman listrik selama 10 jam dari jam 18.00 wita hingga jam 04.00 wita tanpa ada pemberitahuan. Sungguh ironis, saya tinggal di tanah yang penuh emas hitam namun ternyata tak mampu menyuplai energi untuk kami. Batubara kami habis dikeruk untuk memenuhi energi mereka yang ada di seberang sana sedangkan kami penghasil energi diabaikan begitu saja.

Listrik padam di seberang sana adalah sebuah kejadian langka tapi di sini, di tanah borneo itu adalah hal biasa. PLN mungkin menjadi salah satu BUMN yang paling sering mendapat sumpah serapah di tanah borneo karena pelayanan yang buruk. Pemadaman bergilir yang terkadang tidak sesuai jadwal atau pilih kasihnya rentang waktu lamanya pemadaman.

Saya masih teringat bagaimana cerita teman saya yang rumahnya berdekatan dengan rumah dinas pimpinan PLN, dia berkata bahwa pemadaman bergilir di tempatnya memang dilakukan tapi itu tidak lebih dari 10 menit atau paling lama 30 menit dan itu selalu siang hari tidak pernah ada pemadaman malam hari. Sedangkan kami yang jauh dari rumah dinas pimpinan PLN, pemadamannya tidak menentu, siang bisa padam, malamnya padam lagi dan lamanya listrik padam minimal 2 jam. Sungguh sebuah pilih kasih PLN, pejabat lebih diutamakan daripada rakyat. Padahal uang rakyatlah yang menggaji mereka.

Pemadaman yang begitu lama atau juga seringnya nyala dan padam dalam rentang waktu singkat berakibat pada rusaknya peralatan elektronik rumah tangga tapi PLN tak peduli dengan itu. Ketika masyarakat terlambat membayar tagihan PLN maka sanksi tegas akan diterapkan tapi bagaimana dengan kualitas PLN itu sendiri, bagaimana dengan kerugian masyarakat dari pemadaman listrik yang sering terjadi, apa PLN tak kenal dengan namanya kompensasi?

PLN memang selalu berusaha meningkatkan pelayanannya, salah satunya adalah PLN Prabayar namun penggunaan isi pulsa layaknya ponsel ternyata tak menghambat pemadaman listrik. Dulu saat itu dikenalkan, saya mengira pemadaman akan berhenti karena kita menggunakan pulsa layaknya ponsel, dimana selama pulsa masih ada maka layanan operator akan selalu ada tapi ternyata itu tidak berlaku di PLN Prabayar. Padam tetap padam, walaupun kita baru saja memasukkan 20 digit nomor token ke dalam kWh.

Dua tahun lalu tepatnya, selasa, 27 Juli 2010. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendeklarasikan program ‘Indonesia Bebas Pemadaman Listrik Bergilir 2010’ di Lapangan Bumi Gora, Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Mataram. Namun ternyata deklarasi itu seakan hanya sebuah deklarasi semata tanpa adanya sebuah realita di lapangan. Dua tahun telah berlalu semenjak deklarasi itu dan pemadaman listrik masih sering terjadi. Saya tidak tahu apa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahu bahwa pemadaman listrik sering terjadi atau beliau hanya menerima laporan yang baik-baik saja dan mengatakan PLN sudah lebih baik.

Kepada para pimpinan PLN, stoplah berhalusinasi dengan mengatakan tidak ada pemadaman bergilir lagi karena listrik biarpet dan pemadaman bergilir bukanlah sebuah fiksi apalagi ilusi tapi itu nyata di depan kita. Berhentilah menjual mimpi kemerdekaan listrik tapi teruslah bekerja untuk listrik yang lebih baik karena kemerdekaan listrik bukanlah permainan sulap yang bisa menipu mata masyarakat.

 

4 Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan